Pro Kontra Nikah Ulang Pasca Nikah Siri Dalam Pandangan Kepala KUA Di Kabupaten Temanggung
Abstract
This research was motivated by the existence of several siri marriage couples who registered their marriages with the KUA. There was one siri marriage couple that the author managed to interview, and found data that the couple remarried at the KUA after they had previously conducted a siri marriage first. The purpose of writing this article is to examine the pros and cons in the view of the Head of the KUA in Temanggung Regency regarding remarriage after siri marriage. This research is field research or Field Research, using a qualitative descriptive approach, in which the author conducts observations and interviews directly with the Head of the KUA in Temanggung Regency. The result of the research is that there are differences of opinion about remarriage after siri marriage in the view of the Head of the KUA in Temanggung Regency. Some argue that there is no problem with the implementation of remarriage after siri marriage on the grounds that basically siri marriage is a marriage that is not valid according to the state so that the perpetrator of siri marriage is considered never married as long as the marriage has not been recorded by an authorised official. And there are those who disagree with the existence of remarriage, because there is another alternative, namely isbat nikah. Meanwhile, in the context of tajdīdu'n-nikāḥ (renewing marriage) according to most scholars, the law is permissible. This research is expected to open the insights of all parties that in addition to remarriage, isbat nikah also has an important role in alternative solutions to the problem of nikah siri.
References
Al-Asqalani, A. bin A. bin H. (n.d.). Fathul Baari, (Syarah Shahih Bukhari) (Juz 13). Darul Fikri.
Al Azizs, M. S. (2005). Fiqih Islam Lengkap. Surabaya: Terbit Terang.
An’am, F., & Nofialdi, N. (2021). Pengesahan Nikah Pasangan Di Bawah Umur Yang Didahului Dengan Pernikahan Sirri Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus di Kua Kecamatan Sungayang). JISRAH: Jurnal Integrasi Ilmu Syariah, 2(1). https://doi.org/10.31958/jisrah.v2i1.3218
Darsi, D. (2017). Kedudukan Jaksa Dalam Pembatalan Perkawinan (Studi Pasal 26 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974). Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum, 15(2). https://doi.org/10.32694/010420
Darwin Panessai, Ubay Harun, H. N. (2022). Analisis Komparatif Terhadap Pembatalan Perkawinan Menurut Undang-Undang Perkawinan No 1/ 1974 Dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek). Familia: Jurnal Hukum Keluarga, 3(1). https://doi.org/10.24239/familia.v3i1.60
Data hasil survey penulis kepada petugas KUA di Kabupaten Temanggung pada tanggal 30 Maret 2023. Form Model N3 adalah formulir permohonan pencatatan isbat nikah. (n.d.).
Djubaidah, N. (2010). Pencatatan Perkawinan dan Perkawinan Tidak Dicatat Menurut Hukum Tertulis di Indonesia dan Hukum Islam. Jakarta: Sinar Grafika.
Hafas, I. (2021). Pernikahan Sirri Dalam Perspektif Hukum Islam Dan Hukum Positif. Tahkim (Jurnal Peradaban Dan Hukum Islam), 4(1). https://doi.org/10.29313/tahkim.v4i1.7018
Hanafi, M. Y., & Safrudin, A. H. (2020). Analisis Hukum Islam terhadap Tradisi Tajdid Al-Nikah di Desa Kampungbaru Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri. Salimiya: Jurnal Studi Ilmu Keagamaan, 1(2).
Kweenedy, C. (2021). Penolakan Pencatatan Perkawinan Oleh Kantor Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil Akibat Terbitnya Akta Pembatalan Perkawinan. Jurnal Ilmiah Mandala Education, 7(1). https://doi.org/10.36312/jime.v7i1.1750
Manan, A. (2006). Reformasi Hukum Islam di Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Mulya, A., & Elimartati, E. (2022). Fenomena Pelaksanaan Akad Nikah Baru Pada Pelaku Nikah Siri Perspektif Hukum Keluarga Islam. Jurnal Integrasi Ilmu Syariah ….
Nasiri. (2010). Praktik Prostitusi Gigolo ala Yusuf Al-Qardawi (Tinjauan Hukum Islam). Surabaya: Khalista.
Prastowo, A. (2016). Memahami Metode-metode Penelitian, Suatu Tinjauan Teoretis dan Praktis (Cetakan II). Yogyakarta: Ar Ruzz Media.
Rizal, M., Syarif Hasyim, M., & Nurkhaerah, S. (2020). Akad Nikah Ulang Sebagai Ritual Memperoleh Keturunan Dalam Tinjauan Hukum Islam (Studi Kasus Pada Pasangan Suami Istri di Desa Tinggede Kec. Marawola Kab. Sigi. Familia: Jurnal Hukum Keluarga, 1(1). https://doi.org/10.24239/familia.v1i1.4
Sawna, L. T. (2023). Analisis Alasan Penolakan Hakim Terhadap Permohonan Isbat Nikah (Studi Kasus Perkara Nomor : 6/Pdt.P/2021/Pa.Dum). JURNAL AZ-ZAWAJIR, 3(2). https://doi.org/10.57113/jaz.v3i2.265
Sobari, A. (2018). Nikah Siri Dalam Perspektif Islam. Mizan: Journal of Islamic Law, 1(1). https://doi.org/10.32507/mizan.v1i1.117
Suhadi. (2013). Pernikahan Dini, Perceraian, Dan Pernikahan Ulang: Sebuah Telaah Dalam Perspektif Sosiologi. KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture, 4(2). https://doi.org/10.15294/komunitas.v4i2.2412
Umar, S. A. bin M. bin H. bin. (n.d.). Bughyah Al-Mustarsyidin. Indonesia: Darul Khaya’.
Undang Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Pustaka: Yayasan Peduli Anak Negeri (YPAN).
Vierda, A. (2023). Teknik Purposive Sampling: Pengertian, rumus, Contoh. Retrieved April 7, 2023, from Wiki Statistika website: https://wikistatistika.com/teknik-sampling/purposive/
Wafa, M. A. (2018). Hukum Perkawinan di Indonesia: Sebuah kajian dalam Hukum Islam dan Hukum Material. Tangerang Selatan: Yayasan Asy-Syari’ah Modern Indonesia.
Wasian, A. (2010). Akibat Hukum Pernikahan Siri (Tidak Dicatatkan) Terhadap Kedudukan Istri, Anak, san Harta Kekayaannya Tinjauan Hukum Islam dan Undang-Undang Pernikahan. Semarang: Tesis Universitas Diponegoro.
Zarwaki, & Moh. Yustafad. (2021). Tradisi Mbangun Nikah Dalam Tinjauan Hukum Islam; Studi Kasus Di Kelurahan Bandar Lor Kecamatan Mojoroto Kota Kediri. Legitima, 3(2).